
Makassar sedang disiapkan menjadi pusat distribusi pangan untuk wilayah timur Indonesia, mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pemerintah Kota Makassar merespons dengan penuh komitmen untuk memperkuat peran tersebut dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan di kawasan yang luas.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menjelaskan bahwa kota ini memiliki posisi geografis yang strategis sebagai gerbang utama pasokan pangan. “Makassar adalah hub di kawasan timur Indonesia dan menjadi pintu gerbangnya. Kesuksesan dan kelancaran program maupun distribusi harus dimulai dari pusatnya, yakni Makassar,” ungkapnya saat acara peluncuran program di Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Program yang diluncurkan bernama Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua tahun 2026. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya membangun fasilitas penyimpanan dingin dan menyederhanakan rantai pasok agar pangan selalu tersedia dengan harga stabil.
Amran mengungkapkan optimismenya bahwa Sulawesi Selatan sebagai hub kawasan timur dapat mendorong tercapainya swasembada beras yang berkelanjutan. Kolaborasi kuat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, menjadi kunci kesuksesan program ini.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono menambahkan bahwa acara ini merupakan seremoni GPIPS yang keempat di tahun 2026, dengan fokus khusus memperkuat pengendalian inflasi di wilayah timur. Pemilihan lokasi di Pelabuhan Soekarno-Hatta mencerminkan pentingnya Makassar sebagai titik sentral distribusi pangan menuju berbagai daerah di kawasan timur.
Inisiatif ini menunjukkan upaya serius pemerintah untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjamin ketahanan pangan nasional melalui strategi distribusi yang terkoordinasi dengan baik.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Mengapa Beberapa Orang Selalu Habiskan Makanan hingga Piring Bersih? Ini Penjelasannya

Perjalanan Jauh 84 Km Berbuah Hadiah Istimewa: Penumpang Taksi Online Ini Dapat Makan Gratis di Restoran Pakistan

Mengapa Tempe Bisa Dihargai Rp 75 Ribu per Potong di Eropa, Padahal di Indonesia Sangat Terjangkau

