Mengapa Tempe Bisa Dihargai Rp 75 Ribu per Potong di Eropa, Padahal di Indonesia Sangat Terjangkau

Mengapa Tempe Bisa Dihargai Rp 75 Ribu per Potong di Eropa, Padahal di Indonesia Sangat Terjangkau

Tempe, makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari kedelai fermentasi, memiliki harga drastis berbeda antara pasar lokal dan pasar Eropa. Di tanah air, produk ini dijual dengan harga sangat kompetitif dan terjangkau untuk semua kalangan. Namun ketika sampai ke negara-negara Eropa, tempe berubah status menjadi produk premium dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi.

Perbedaan harga yang signifikan ini bukan tanpa alasan. Di Eropa, tempe masih dianggap sebagai produk eksotis dan niche yang tidak mudah ditemukan di pasaran biasa. Keterbatasan ketersediaan dan proses impor yang memerlukan biaya tambahan menjadi faktor utama yang mendorong harga naik berkali-kali lipat dibanding harga aslinya.

Selain itu, tempe di pasar Eropa dipasarkan sebagai produk makanan sehat dan premium yang cocok untuk konsumen yang mencari alternatif protein nabati berkualitas tinggi. Posisinya sebagai makanan khusus dengan manfaat gizi yang diakui membuat konsumen lokal bersedia membayar dengan harga premium, bahkan mencapai puluhan ribu rupiah per potong.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana nilai suatu produk dapat berubah signifikan tergantung pada konteks pasar, ketersediaan, dan persepsi konsumen. Apa yang dianggap makanan sehari-hari di satu tempat bisa menjadi produk mewah di tempat lain, mencerminkan dinamika perdagangan global dan preferensi konsumen yang beragam di berbagai belahan dunia.

Sumber: Detik.com

Baca Juga

Scroll to Top