Menaker: Ukur Sukses Pelatihan dari Berapa Alumni yang Bekerja, Bukan Sekadar Jumlah Peserta

Menaker: Ukur Sukses Pelatihan dari Berapa Alumni yang Bekerja, Bukan Sekadar Jumlah Peserta

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengubah cara mengukur efektivitas Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di seluruh Indonesia. Bukan lagi sekadar menghitung berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan, melainkan fokus pada berapa banyak alumni yang benar-benar mendapat pekerjaan setelah menyelesaikan program.

Yassierli melihat perubahan sudut pandang ini penting untuk mengatasi tantangan ketenagakerjaan yang masih tinggi di Indonesia, mulai dari pengangguran hingga kesenjangan antara keterampilan yang diajarkan dengan kebutuhan industri yang sebenarnya. “Jangan lagi membanggakan berapa banyak orang yang sudah dilatih, tetapi berapa banyak orang yang setelah dilatih bisa langsung bekerja. Itu yang harus kita kejar bersama,” katanya.

Untuk menjembatani gap tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan telah meluncurkan beberapa inisiatif. Di antaranya adalah Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Magang Nasional (MagangHub) yang ditargetkan khusus untuk fresh graduate atau lulusan baru dari perguruan tinggi. Kedua program dirancang agar peserta bisa langsung menerapkan keterampilan di dunia kerja.

Selain itu, Menaker juga mengumumkan pembukaan Pusat Pelatihan Khusus Disabilitas di Bekasi. Langkah ini bertujuan membuka pintu akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk belajar keterampilan dan memperoleh kesempatan kerja yang setara.

Dalam perkembangan internal, Yassierli meminta BPVP melihat diri mereka sebagai perpanjangan pemerintah pusat di tingkat daerah. Hal ini berarti BPVP harus menyelaraskan program mereka dengan visi Kementerian Ketenagakerjaan dan prioritas pemerintah secara umum. Transformasi ini juga melibatkan empat pilar budaya kerja: persatuan dalam langkah, penguatan peran individu, organisasi yang gesit menghadapi perubahan, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran.

Selain kebijakan, Menaker juga menekankan pentingnya suasana kerja yang mendukung pengembangan. Dia berpesan agar tidak ada kepuasan dini, integritas tetap terjaga, inovasi selalu didorong, dan setiap instruktur diberi ruang untuk tumbuh. Dengan begitu, balai pelatihan bisa menjadi lingkungan yang nyaman dan produktif bagi semua peserta didik.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top