
Bayangkan masuk ke sebuah bar, lalu ponselmu langsung dikunci di dalam kantong khusus sebelum kamu duduk. Itulah yang terjadi di Antagonist, bar koktail di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat. Kebijakan ini bukan iseng — ini bagian dari tren yang mulai menyebar ke berbagai restoran dan bar di AS hingga Eropa.
General Manager Antagonist, Adam Horner, menjelaskan alasan di balik kebijakan itu. “Tujuannya untuk mengembalikan sedikit interaksi antar manusia yang kami rasa telah hilang karena teknologi,” ujarnya. Bukan sekadar aturan ketat, ini lebih soal menciptakan suasana di mana orang benar-benar hadir saat bersantap bersama.
Beberapa tempat lain menerapkan cara yang berbeda-beda. The Saloon di Washington D.C. melarang ponsel dan bahkan tidak memasang televisi sama sekali. Eulalie, sebuah bistro di Manhattan, mencantumkan aturan bebas ponsel langsung di pintu masuk. Pemiliknya, Tina Vaughn, bilang pengunjung sebenarnya butuh “izin” untuk berhenti menatap layar — dan restorannya hadir untuk memberi izin itu.
Di New York City, The Edge Harlem memilih pendekatan lebih halus: tidak ada Wi-Fi, dan ada tulisan di dinding yang mengajak pengunjung untuk berbicara satu sama lain. Sementara di Eropa, Spy Bar London menempel stiker di lensa kamera ponsel, dan restoran Al Condominio di Verona, Italia, bahkan menawarkan sebotol wine gratis bagi siapa saja yang rela melepas ponselnya sebelum makan.
Tidak semua pihak setuju dengan larangan total. Mixologist dari Dallas, Sanwar Mal Khokhar, berpendapat penggunaan ponsel secukupnya masih wajar. “Mengambil foto singkat minuman atau makanan tidak masalah, mengecek pesan atau mencari informasi tentang bahan makanan yang tidak dikenal juga boleh. Semua itu bagian dari kehidupan modern,” katanya. Pendiri restoran Vantage, Rachael Barclay, menambahkan bahwa pengalaman bersantap yang menarik bisa menjadi cara lebih efektif untuk membuat tamu secara alami melupakan ponsel mereka.
Tren ini menunjukkan bahwa dunia kuliner premium mulai serius mempertimbangkan kualitas pengalaman makan — bukan hanya soal rasa di lidah, tapi juga soal koneksi antarmanusia yang terjadi di sekitar meja.
Sumber: Detik.com

